Ditulis tanggal 8 August 2007 pukul 01:08 oleh Fadli Wilihandarwo

Kembali ke Laptopnya DPR

“Jangan kau tuntut apa yang dapat diberikan Negara ini kepadamu, tapi berikanlah apa yang bisa kau berikan kepada negara ini”

Semester yang lalu saya begitu senang sekali, selain dikarenakan saya dapat diterima di Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Hasanuddin, setelah melalui ujian SPMB yang melelahkan, saya juga mendapatkan laptop baru yang saya idam-idamkan sejak lama. Untuk menunjang kuliah tentunya. Dengan uang enam juta rupiah ditangan -yang merupakan tabungan saya selama SMA hasil dari hadiah lomba-lomba yang saya ikuti- saya segera ke MTC (Makassar Trade Center), sebuah pusat pembelanjaan di Makassar untuk membeli laptop yang saya idam-idamkan itu. Untung saja saya memiliki sedikit pengetahuan tentang komputer, sehingga saya dapat memilih sendiri laptop yang saya inginkan, tentu saja harus sesuai dengan uang yang saya punya sekarang. Enam juta rupiah.

Pencarian saya terhenti di depan sebuah showroom laptop yang lumayan memikat mata saya. Saya sambangi dengan segera. Pertama, saya mengamati terlebih dahulu semua laptop disitu. Membanding-bandingkan harga dengan spesifikasi yang ada. Akhirnya pilihan saya jatuh pada sebuah laptop seharga Rp 6.250.000,- dengan prosesor satu inti berkecepatan 1,6 GHz, memori 256 MB, 40 GB Harddisk, DVD-ROM/CD-RW dan ditambah lagi dengan fasilitas WiFi. Saya pikir tipe ini sudah sangat cocok bagi saya yang membutuhkan laptop untuk mengetik tugas dan laporan saat duduk berdiskusi bersama rekan-rekan mahasiswa di kampus, membuat slide presentasi yang telah menjadi tuntutan kampus, untuk mengedit gambar dan film. Tak lupa untuk mengakses internet nirkabel yang gratis disediakan oleh kampus. Dan dengan sedikit tawar-menawar, akhirnya saya bisa membawa pulang laptop itu seharga enam juta rupiah. Cukup murah.

Dan hari ini saya tersentak dengan berita yang saya saksikan di TV, kalau Dewan Perwakilan Rakyat menganggarkan uang pembelian laptop seharga 21 juta rupiah per unit. Sangat berbeda jauh dengan harga laptop yang saya beli. Hampir empat kali lipat. Kalau jumlah anggota DPR itu sekitar 550 orang, maka harus disiapkan dana sekitar 11,5 milyar rupiah ! Cukup banyak bukan ? Mungkin para anggota dewan kelatahan dengan istilah “kembali ke laptop”nya Tukul Arwana, sehingga ingin punya laptop juga, dan ketika sedang memimpin rapat dapat mengatakan “kembali ke laptop” untuk memecahkan suasana rapat yang tegang.

Padahal kalau kita menilik lebih jauh, apakah gaji yang didapat para anggota DPR itu tidak mencukupi untuk membeli sendiri sebuah laptop ? Kenapa harus selalu bergantung kepada negara atas apa yang akan dikerjakannya. Atas nama rakyat istilahnya. Kenapa tidak menggunakan harta kita untuk rakyat ? Itu baru namanya wakil rakyat.

Kalau sekiranya laptop itu memang sudah dijadikan kebutuhan yang mendesak bagi anggota dewan, mereka kan bisa memenuhinya sendiri. Dan mungkin ada beberapa anggota dewan yang memang belum membutuhkan, apakah harus dipaksa menggunakannya untuk mengganti buku agenda dan pena yang selama ini selalu mendampingi mereka. Dan saya yakin para anggota dewan itu mempunyai hidup yang lebih mapan bila dibandingkan dengan saya. Saya saja yang seorang mahasiswa bisa membeli laptop menggunakan uang saya sendiri dari hasil lomba-lomba sewaktu SMA dulu. Kenapa anggota dewan yang kemana-mana selalu mengenakan jas dan sepatu mengkilap itu tidak bisa membeli laptop sendiri ? Apa tidak malu dengan saya. Rakyat biasa.

Kalaupun harus dibelikan, anggarannya tidak harus sebesar itu? Dengan uang sebesar 21 juta, laptop yang didapatkan sudah terlalu mewah untuk ukuran anggota dewan. Laptop seharga 21 juta dapat memiliki fasilitas layar touch screen, berprosesor 2 inti terbaru, DVD-RW, Memori 1 GB, VGA 128 MB, dengan sistem operasi terbaru, WiFi, Bluetooth, Infrared, dan memiliki pengamanan berupa sidik jari. Apakah semua itu dibutuhkan oleh anggota DPR, yang mungkin hanya membutuhkan laptop untuk mengetik dan mengakses internet. Apakah anggota dewan mau kerja sampingan sebagai video editor atau image editor yang membutuhkan laptop secanggih itu yang biasanya digunakan oleh para professional di bidangnya? Nanti kalau terlalu lama duduk memandangi laptop, rakyat akan cemburu karena merasa kurang diperhatikan.

Sungguh ironis memang. Ketika negara kita masih banyak mengalami bencana yang bertubi-tubi. Entah itu bencana alam ataupun bencana kelaparan. Apakah tidak sebaiknya uang sebesar itu diberikan kepada rakyat yang masih makan nasi aking di beberapa daerah tertinggal. Atau untuk memperbaiki atap sekolah dasar di kota saya yang sampai sekarang masih banyak bocor dimana-mana dengan dinding kayu yang bolong. Ataupun dengan sekolah-sekolah lainnya yang bahkan lebih memprihatinkan lagi.

Hanya lewat tulisan…

Ketika rekan-rekan saya sesama mahasiswa nantinya akan menolak kebijakan tersebut dengan berdemo sambil membakar ban di depan kantor dewan, saya hanya duduk di depan komputer menggerakkan jemari saya mengetikkan uneg-uneg di kepala saya yang berdesakan segera ingin disalurkan. Bukannya tidak mau berpartisipasi langsung, tetapi saya pikir kita sekarang membutuhkan sebuah pendekatan yang halus untuk menegur sesuatu. Karena jika kekerasan terus menerus digaungkan untuk menegakkan sesuatu, tidak akan kunjung selesai permasalahannya. Apalagi jika kedua belah pihak sama-sama memiliki ego yang besar. Mudahan tulisan ini bisa menjadi salah satu bahan renungan bagi anggota dewan pengambil keputusan.

Memang saya hanya remaja berumur 19 tahun yang mungkin pola pikir nya tidak sedewasa bapak atau ibu di DPR sana. Tetapi setidaknya saya bisa berpikir lepas di luar pikiran orang yang lebih tua dari saya karena masalah-masalah kehidupan yang saya dapat tidak begitu banyak dan begitu kompleks.

Dan seperti yang saya sampaikan di awal tulisan ini bahwa kita jangan menuntut apa yang negara berikan kepada kita, tetapi apa yang bisa kita berikan kepada negara. Tunjukkan kinerja yang baik, yang memperhatikan masalah rakyat, dan selalu mencamkan pepatah tersebut. Berikan sesuatu buat negara kita.

Kalau memang orang-orang di DPR kebingungan memilih laptop mana yang cocok buat mereka, saya akan rekomendasikan laptop seperti yang saya punya seharga 6 juta. Atau kalau belum memiliki uang segitu, tunggu aja gajian bulan depan. Mudah bukan?



Tagged: 

Leave a Reply