Khitbah
Artikel ini saya dapatkan dari kemudian.com Cukup menarik dan menyentuh.. Mengenai kegelisahan seseorang untuk menikah dengan proses yang sesuai dengan tuntunan agama.
===============================================
“Agak gak pede. Hiks, tapi mohon dikomentari ya teman-teman.”
SHALAT ISTIKHARAH YANG KE-7
A’UDZUBILLAHIMINASSYAITANIRRADZIM.
BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM…….
Engkaulah yang Maha Mengetahui bahwa umur saya masih 21 tahun lewat dua bulan. Tapi ustadz muda itu melamar saya, ya Allah. Saya hanya bisa terpana, tak tahu harus menjawab apa. Tapi diam-diam saya merasa malu pada-Mu. Engkau gerakkan hatinya untuk mengkhitbah saya yang jelas-jelas masih jauh dari predikat mukminah ini, ya Rabb. Saya malu, pakaian yang rapat menutup aurat saya ini telah mampu mengecohnya dan membuatnya mengira saya adalah perempuan baik-baik. Bukan perempuan yang dulu pernah tenggelam dalam lembah hitam obat-obatan terlarang dan minuman keras. Dia tidak tahu, ya Rabbi, tapi Engkau lah yang Maha Tahu. Hanya Engkau yang mengetahui siapa sebenarnya diri saya yang hanya lahirnya saja terlihat baik ini. Apakah maksud-Mu dengan semua ini, ya Allah? Saya hanyalah setitik debu yang pernah menghamba pada tuntutan hidup yang keras ini.
Apakah ia masih ingin meminang saya andai pun ia tahu masa lalu saya yang suram itu? Apakah keluarganya tak memandang jijik saya yang kotor ini?Apakah saya pantas ya Rabb? Pantaskah saya menerima karunia-Mu ini? Apakah saya pantas mendampingi pria baik-baik seperti dia?
Ya Lathif, yang saya tahu bahwa pernikahan itu adalah suatu hal yang agung. Ikatan yang Engkau ridhoi. Wadah cinta kasih, wadah muthmainah, wadah seorang wanita dengan karir paling agung di dunia. Menjadi istri dan menjadi ibu, menjadi wadah pendidikan dunia akhirat pertama bagi anak dan harus bisa dipertanggungjawabkan di hadapan-Mu nanti. Wadah bertemunya dua mahluk yang berlainan jenis dalam bingkai ibadah halal tanpa hijab. Karena konsep yang agung dan suci yang Kau ajarkan itulah, ya Allah, saya takut sekali untuk menerimanya. Karena menikah bukan hanya untuk sehari dua, tapi seumur hidup bahkan sampai ajal menjemput.
Dan saya?, baru setahun ini hidup dalam lingkungan bersih Yayasan Ainul Haq ini. Itu pun jika Engkau tak mengirimkan Endang sebagai penyelamat saya dari lembah hitam itu, andai tak Engkau kirimkan Ustadz Yudi untuk mengajari saya, andai tak Kau berikan hidayah itu, mungkin saat ini hamba masih berkutat dengan barang-barang haram itu.
Berkecamuk dada saya, ya Fatah, karena saya tahu sebuah hadist nabi Muhammad SAW yang menyatakan bahwa jika seorang wanita menolak lamaran seorang laki-laki yang engkau ridhoi agamanya, maka tunggulah kerusakan di muka bumi ini. Tapi apakah seorang saya, seorang Afifa adalah orang yang tepat untuknya? Hanya Engkau yang Maha Tahu, karenanya bantulah saya untuk memilih yang terbaik untuk kami semua.
Ya Hayyu, yang Maha memiliki segala sesuatu, saya merasa belum bisa membalas jasa orang tua saya. Salahkah saya jika menolaknya atau beruntungkah saya apabila menerimanya?. Pilihkan ya Allah, saya benar-benar bingung. Saya merasa punya tanggung jawab besar pada orang tua saya, pada adik-adik, pada pekerjaan dan masa depan, dan sebagainya, dan sebagainya. Mungkin itu semua adalah alasan yang naif, karena kata Ustadz Yudi menikah itu membuka jalan berkah, menggenapkan separuh agama. Rasanya saya tidak sanggup, ya Rabb. Begitu banyak yang belum saya ketahui tentang hidup ini, begitu banyak yang ingin saya lakukan untuk keluarga saya, banyak tempat yang ingin saya kunjungi, masih banyak mimpi saya, ya Allah.
Maafkan saya, ya ghafuur, karena sok tahu. Tapi Engkaulah yang Maha Faham bahwa betapa badai mengamuk di dada saya. Dia lelaki sholeh yang matang secara mental spiritual dan mapan dalam hal materi, ia pantas mendapat akhwat yang lebih baik daripada saya, akhwat yang pantas mendampinginya meniti jalan dakwah. Jangan murkai saya, ya Allah, jangan murkai saya karena merasa tahu. Maka berkali-kali saya sujud memohon kemurahan-Mu untuk memutuskan yang terbaik untuk saya, menurut ilmu-Mu. Hingga sampaikanlah hati saya kepada keputusan “menerima” atau”menolak”. Berikanlah kemantapan pada hati ini, ya Wahab. Saya tahu, tak mungkin Engkau mengecewakan hamba-Mu. Engkaulah yang Maha memenuhi janji.
Tak saya pungkiri, bagaimana pun saya menginginkan sebuah keluarga dengan “muthma’inah”. Betapa saya terpanggil untuk memenuhi panggilan-Mu itu ya Qoyyum. Tapi dengan orang yang tepat. Dengan orang yang saya tak ragu untukmenyerahkan diri kepadanya, hingga saya ikhlas mengabdikan diri sebagai istri, merelakan hidup saya bersamanya. Saya berharap pada-Mu ya Allah.
Maafkan saya jika selama ini, hari-hari yang saya jalani setelah khitbahnya itu, membuat syetan dengan mudah masuk ke kisi-kisi hati, karena saya memahami bahwa betapa rentan menyimpan rasa ini. Betapa syetan menghadang kanan kiri, muka belakang, berjalan di lairan darah yang tiap saat saya coba sucikan. Hanya Engkau yang tahu, ya Allah betapa saya berjuang menahan letupan-letupan rasa suka itu padanya. Tuntun saya memakrifati cinta-Mu, bahkan yang Kau hadirkan dalam perasaan pada mahluk ciptaan-Mu. Bantu saya memcintai sesuatu karena diri-Mu saja.
Saya ingin jujur padanya tentang masa lalu saya, ya Allah, tapi saya ragu dan serasa tak kuasa membuka kembali aib itu. Bahwa saya seorang mantan pecandu narkoba.Ya Salam, berikanlah keberanian itu pada hamba, agar ia tak menunggu terlalu lama. Sementara itu berikanlah saya sedikit kesempatan lagi untuk memperbaiki akhlak saya. Tuntunlah ke dalam ruang dan waktu di mana Engkau siapkan dan mantapkan hati hamba untuk menolak atau menerimanya.
Maka tolonglah agar saya tidak akan menyesali keputusan saya nantinya. Ajari saya untuk mempersiapkan diri menuju ke jenjang pernikahan itu. Tamparlah saya jika berani berpaling dari-Mu lagi, jangan masukkan saya ke dalam golongan orang munafik. Kuatkan hati saya untuk menjadikan-Mu segala-galanya dalam kehidupan saya.
Beri dia yang terbaik
Beri saya yang terbaik
Berianlah yang terbaik untuk orang-oang yang saya cintai,
Menurut-Mu ya Allah,
Atas pengetahuan-Mu yang tanpa batas.
Bila pun airmata ini harus mengalir, alirkanlah karena cinta dan khauf kepada-Mu. Berikanlah saya kemantapan hati untuk mengambil keputusan. Sementara itu bimbinglah hamba untuk terus menjaga hidayah yang Engkau berikan, kesadaran untuk terus menjaga harga diri dan berikanlah kesadaran untuk menghargai diri sendiri. Amin ya Rabbal ‘alamiin.
16 Desember 2000
Malam semakin sunyi, aku menatap sekeliling kamar dengan perasaan syukur yang membuncah di dada. Suamiku ada di kamar kerjanya. Kumasukkan lagi diary berwarna ungu itu ke dalam laci,menyimpannya dengan hati-hati. Karena di dalamnya ada harta yang paling berharga. Sepenggal doa yang kutulis setelah melaksanakan sholat istikharah yang ketujuh kali, empat tahun yang lalu. Sholat di tengah malam buta yang penuh dengan derai airmata. Ali anakku yang berumur 2 tahun mendengkur lembut di peraduan kami. Sepasang tangan kokoh kemudian melingkari pinggangku dari belakang.
“Sayang, tidur yuk..”
Aku berbalik menatapnya bahagia. Wajah teduh yang kucintai itu tampak terkantuk-kantuk. Alhamdulillah. Allah telah memilihkanku yang terbaik. Lelaki itu ada di sini, mencintaiku dan anak kami. Empat tahun yang penuh kasih dan semoga akan selalu penuh kasih. Lelaki yang dengan rela menerima diriku apa adanya. Lelaki tampan itu Ustadz Iwan yang empat tahun yang lalu telah membuatku shalat istikharah sampai tujuh kali.
Samarinda, 3 Juni 2004
Tagged:









January 5th, 2008 at 11:55 pm
Keberkahan selalu tercurah kepada hamba-Nya yang bersyukur & bertaubat…