Tulisan ini merupakan rangkaian tulisanku dalam rangkaian perjalanan menuju Thailand untuk menghadiri “The 38th Asia Pacific Academic Consortium for Public Health” di Bangkok, Thailand. Kegiatan ini resminya dilaksanakan pada tanggal 3-6 Desember 2006. Dan saya memulai perjalanan saya pada tanggal 2 Desember 2006.
Subuh-subuh sekali saya sudah harus pergi dari rumah. Sehabis sholat subuh, saya langsung naik taxi menuju Bandara Hasanuddin, Makassar. Kondisi masih agak gelap waktu itu. Dan ketika sampai, sudah lumayan banyak penumpang yang mengantri untuk check in. Soalnya pesawatnya bakal take off sekitar jam 7.
Saya tidak berangkat sendiri kesana pagi ini. Ada tiga orang. Saya, kakak tingkat, dan seorang pemandu dari biro perjalanan. Kami bertemu di bandara. Oh ya kakak tingkat itu bernama Suarni Jafar. Panggilannya Arni. Kami bertiga naik pesawat Lion Air. Cukup nyaman.
Tujuan pertama adalah ke Jakarta. Dengan pesawat ini, jarak Makassar ke Jakarta memakan waktu lebih kurang 1,5 jam. Setelah sampai disana, kami harus menunggu rombongan berikutnya (Mahasiswa S2 Program Magister Kesehatan Masyarakat UNHAS) yang menaiki maskapai Adam Air. Dari Makassar sekitar jam 9. Jadi sampai di Jakarta sekitar jam 11.
Karena waktu yang sangat mepet, hampir saja tiket untuk rombongan berikutnya hangus. Untung saja, setelah bernegosiasi, pihak Air Asia yang akan mengantarkan kami ke Batam, mau bersabar sebentar. Dan sekitar 30 menit sebelum take off akhirnya rombongan itu tiba. Dan langsung menuju pesawat sambil berlari-lari, karena waktu keberangkatan sangat mepet sekali. Kami bertiga lantas bergabung dengan mereka.
Rombongan besar ini dibagi menjadi 2 rombongan yang lebih kecil. Kami ikut rombongan 1. Dan berangkat lebih dahulu ke Batam. Jumlah rombongan pertama ini sekitar 40 orang. Kebanyakan dari mahasiswa Magister Epidemiologi Kesehatan Masyarakat Unhas. Ada juga beberapa dosenku. Rombongan 2, kebanyakan dari mahasiswa Magister Promosi Kesehatan Masyarakat Unhas.
Ini kali pertama aku naik maskapai Air Asia. Yang katanya murah. Pantas aja murah. Kami tidak memegang tiket seperti pada maskapai lain. Kami hanya diberikan selembar kertas yang berisi beberapa keterangan keberangkatan. Dan kalo dimaskapai lain kita mendapatkan makanan gratis di dalam pesawat, di Air Asia malah dijual, tidak digratiskan. Ya, ga masalah lah, wong tujuan kita naik pesawat adalah sebagai alat transportasi bukan restoran kan ?
Perjalanan ke Batam membutuhkan waktu lebih kurang 1 jam. Kami mendarat di Bandara Hang Nadim Batam. Setelah mendarat kami langsung berkumpul untuk menyetorkan paspor kami untuk dibuatkan visa ke Singapore. Ya, kami memang lewat Singapore untuk ke Thailand. Sebenarnya sih bisa langsung lewat Jakarta – Bangkok. Tapi agak mahal. Demi alasan penghematan, kami memilih lewat Singapore dulu. Yah, walaupun cukup lama perjalanannya. Biaya perjalanan menggunakan kapal ke singapore sekitar Rp 75.000 aja. Trus untuk visanya sekitar 500 ribu rupiah.
Kami langsung di bawa ke Pelabuhan Batam untuk menyeberang ke Batam. Lumayan bagus tempatnya. Pelabuhannya mirip dengan mall. Trus, karena perut udah bernyanyi untuk diisi, kami menuju lantai 3 untuk santap siang. Dalam sekejap mata (hiperbola kali ya…) makanan di atas meja langsung diembat habis. Maklum dari pagi belum makan. Oh ya saat di Batam ini, jam menunjukkan pukul setengah 3 siang. Berarti masih ada waktu sekitar 1 jam sebelum bertolak ke Singaapore.
Tapi karena kami rombongan besar, jadi harus segera masuk ke ruang tunggu untuk mengurus visa masing-masing supaya ga kelamaan. Dalam ruang tunggu, ada bapak-bapak dari rombonganku (Mahasiswa S2), bertanya bagaimana mengaktifkan SLI (Sambungan Langsung Internasional). Waduh! aku lupa juga untuk mengaktifkannya. Bapak ini pakai kartu Simpati. Dan aku pakai kartu As. Langsung aku coba telepon ke 116 untuk menanyakan gimana caranya nyetting SLI. Trus dijelaskan oleh mbak yang jawab telepon cuma kartu Simpati dan Halo yang bisa buat SLI. Dan si mbak operator langsung menjelaskan caranya. Trus kusampaikan ke Bapak tadi. Yah, berarti kartu As ku ga bisa donk. Ya udah, entar di Thailand aja baru beli kartu.
Ga berapa lama, penumpang Asian Rider II (kapal yang akan kami tumpangi ke Singapore) disuruh naik kekapal. Sambil membawa paspor masing-masing kami antri di pintu kapal. Dan kupandangi sebentar air laut di Batam. Untuk perbandingan nanti dengan laut Singapore. Ehmm… agak kotor dan berwarna agak kehijau-hijauan. Gimana dengan laut Singapore ya ? Terus aja baca artikel ini.
Perjalanan menggunakan kapal ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit. Dan dalam perjalanan kami sudah bisa melihat Singapore dari kejauhan. Dan ketika sampai di Pelabuhan Singapore (lupa namanya), kulihat lagi air lautnya, wah jernih. Warna biru. Emang beda.
Trus kami langsung masuk ruang pemeriksaan imigrasi Singapore. Sumpah, disini pemeriksaannya ketat banget. Ada barang-barang yang ga boleh masuk singapore, diantaranya adalah benda-benda tajam (gunting kuku aja ga boleh) dan rokok. Ya, pengawasan terhadap masuknya rokok ke Singapore sangat ketat. Maklum disini harga rokok sangat mahal. Sekitar S$ 7 atau Rp 40.000 per bungkus. Jadi ketentuannya adalah, setiap orang ga boleh membawa rokok lebih dari 1 bungkus. Dan dalam 1 bungkus itu harus sudah kosong 1 batang rokok. Jadi ga boleh masih baru (disegel). Coba di Indonesia diterapkan gitu ya, pasti asyik banget. Aku kan orangnya anti rokok.
Waktu udah sore banget ketika kami sampai di Singapore. Dan Astagfirullah, belum shalat Dzuhur dan Ashar. “Entar sholat jama’ di dalam bus aja”, pikirku. Nda’ berapa lama, bis yang menjemput kami pun tiba. Pas di dalam bis, aku langsung aja sholat jama’ dzuhur dan ashar.
Wah, cukup takjub melihat pemandangan kota Singapore. Soalnya baru pertama kali menginjak tempat ini. Kotanya bener-bener bersih. Ga terlihat tiang-tiang listrik beserta kabel-kabelnya yang biasanya berseliweran di Indonesia. Nampaknya kabel-kabel listrik dan telepon ditanam di dalam tanah deh. So kelihatan lebih bersih kan. Saat itu matahari sudah mulai tenggelam, tandanya Magrib sudah tiba. Dan aku ga ngedenger suara azan yang saling bersahutan seperti yang biasa ku dengar di Indonesia. Ya iyalah, ini kan singapore.
Oh ya, kami sempat melewati daerah dengan nama Bugis Village (Kampung Bugis). Wah bangga juga nih sebagai orang bugis. Dan kampung ini merupakan salah satu daerah di Singapore yang memakai nama suku bangsa / negara. Ada juga nama kampung lainnya, seperti Kampung India, China Town, dll. Sesuai namanya kebanyakan daerah itu didiami oleh suku yang bersangkutan.
Trus kami diajak untuk menukar uang dan rehat sebentar di sekitar daerah Mustapa. Mall yang terletak di daerah perkampungan India. Dan disana ada Masjid. Di Masjid Angulia ini aku lantas sholat Magrib digabung dengan shalar Isya. Syukurlah.
Trus kami menuju Bandara Changi, Singapore untuk melanjutkan perjalanan ke Bangkok. Sebelumnya, kami singgah dulu di sebuah restoran untuk santap malam. Kata penjualnya sih halal. Mudahan aja…
Trus, pas sampai di Bandara Changi, wah takjub. Ini bandara apa mall. Luassss banget. Sepertinya ini bandara yang menyatu dengan mall. Banyak banget toko-toko disana. Kami langsung menuju ruang tunggu, karena sebentar lagi pesawat akan berangkat. Kukira ruang tunggunya deket, ternyata alamak, jauh banget. Butuh sekitar 15-20 menit kesana. Tapi ga akan terasa capeknya, karena tempatnya asyik banget.
Di ruang tunggunya kita juga akan bosen, karena ada akses internet gratis. Disitu disediain komputer yang boleh dipake siapa aja. Asyik kan..
Trus kira-kira jam 12 malam, kami naik maskapai Air Asia menuju Bangkok, Thailand. Wah akhirnya…
Bersambung besok ya..
{ 9 comments… read them below or add one }
seru/………!!!!
bravo tuk km fadli. btw banyakin dong artikel kesehatannya, spaya sya sering bka…keyyy./
Tertarik masalah kesehatan ya ? Ok, entar kubanyakin deh artikel tentang itu. Maaf ya, kalau beberapa hari ini jarang ngisi blog…
Entar akan normal lagi kok.
Sering-sering berkunjung ya…
Keren li blognya…Kamu emank berbakat…Kapan mau ke thailand lg???Kalo ke KL kabari ya..jd bisa ketemu…
Thanks ya kris… kangen nih pengen ke KL lagi.. Entar bulan November ada acara yang sama di Jepang. Mungkin pulangnya bisa ke KL lagi…
OK Entar kukabari kok
Mas mau tanya, kalau saya pakai N90 terus mau telp dari Indonesia ke Bangkok atau sebaliknya apabisa pakai kartu simpati, sebab saya desember awal mau kesana, terima kasih.
Untuk nelpon dari Indonesia ke Bangkok aku saranin pake fasilitas voip yang biasanya disediakan juga oleh provider telekomunikasi di Indonesia.
Sebagai contoh, simpati dengan kode aksesnya 01017. Untuk nelpon ke bangkok harganya 99 rupiah per 6 detik. Caranya awali no tujuan dengan kode 01017 trus baru disambung no telpon yang dituju.
Untuk nelpon dari bangkok ke indonesia lebih baik beli nomor sana aja. Nomor perdana disana dijual seharga 120 – 150 Baht. Atau sekitar Rp 35.000,-. Simpati bisa sih dipake dari luar negeri, tapi romingnya itu mahal banget. Lebih baik beli kartu disana aja. Itu aja saran dari aku. Thanks udah berkunjung
wahhh ceritanya bagus bangat
~
tapi kok bersambung sihh
aku jadi penasaran
Hostel di bagkok yang murah apa ya?
Aku backpackeran sama temen kampus, cw smua.
Kl dr sing kl naik train ke bangkok ada ga?
makasih atas infonya
{ 1 trackback }