Hasil dari Swiss (Bagian 2)

Di hari kedua, kegiatan dimulai pada pukul 09.00. Seminar yang dilaksanakan pada hari kedua ini dilaksanakan pada ruang yang berbeda-beda. Sehingga para pesertalah yang menentukan materi mana yang dia sukai. Sehingga penyerapan materi bisa lebih baik. Pagi ini saya memasuki ruangan 1 untuk mengikuti materi ?ICT dalam Pendidikan : Sampah atau Kebutuhan ??. Materi dibawakan oleh beberapa orang, yakni dari UNESCO, University of London (Inggris), Syracuse University (Argentina), Persatuan Tunanetra Afrika, dan Menkominfo Mesir. Di sini dibahas mengenai pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di bidang pendidikan. Disini diperdebatkan apakah pemanfaatan ICT dalam dunia pendidikan mampu membantu atau malah sebaliknya mengganggu pendidikan. Disatu sisi, dengan ICT, penyebaran informasi dan cara penyajian suatu materi pembelajaran dapat berubah. Dari cara konvesional, sekarang berubah menjadi serba elektronik dan terkomputerisasi. Yetnebersh Nigussie seorang tunanetra dari Persatuan Tunanetra Afrika mengatakan bahwa ia sangat terbantu dengan teknologi informasi dan komunikasi. Ia sekarang bisa ?membaca? buku menggunakan program screen reader melalui komputer. Program ini lah yang membacakannya tulisan dari internet.

Namun, ICT juga punya sisi buruk, dimana para siswa yang salah memanfaatkannya akan hanyut dalam kemudahan fasilitas-fasilitas yang dapat diberikan oleh ICT. Kekreatifitasan dapat berkurang karena budaya copy and paste dalam pengerjaan berbagai tugas sekolah. Jadi, semua kembali kepada pelaku pendidikan untuk mengatur hal-hal tersebut. Tentu saja yang digunakan adalah hal-hal yang membawa manfaat saja. Bukan sampah. Panel ini selesai pada pukul 10.30, dengan menghasilkan beberapa rumusan untuk membuat sistem e-Learning yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Setelah menyelesaikan sesi ini, saya langsung menuju ke ruangan 4. Disini dibahas mengenai ?ICT dan Kesehatan : Ketika Dua Dunia Bersatu?. Materi dibawakan oleh WHO (Organisasi Kesehatan Dunia). Saat ini bidang apapun dapat dihubungkan dengan ICT, termasuk bidang kesehatan. Kita mengenal istilah e-Health. Dimana mulai dari pemeriksaan kesehatan, catatan rekam medik pribadi, konsultasi kesehatan, hingga pembelian obat-obatan via internet pun sudah dimungkinkan untuk saat ini. Dari sesi ini saya mendapatkan banyak ide untuk penerapan e-Health di Tarakan pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Sesi ini selesai pada pukul 12.00 dan langsung dilanjutkan dengan sesi marketplace lagi. Kali ini saya masuk ke ruangan 3 dimana ada sebuah organisasi nirlaba dari Afrika yakni Mindset Network. Mereka telah mengembangkan proyek bernama ?Mindset Health Information Technology?. Proyek ini berupa penyebaran CD informasi berbagai masalah kesehatan kepada masyarakat. Karena hanya sedikit rakyat Afrika yang memiliki komputer, maka mereka juga menyediakan komputer komputer yang bisa diakses secara umum seperti layaknya telepon umum. Mereka mengembangkan penyampaian informasi melalui CD ini untuk daerah-daerah yang belum terjangkau akses internet.

Sehabis jam makan siang (tetapi saya tidak ikut makan, karena lagi berpuasa), saya mengikuti sesi berikutnya di ruang 1 dengan judul ?Menutup Jurang Digital Melalui Teknologi Web 2.0?. Materi kali ini dibawakan oleh perwakilan dari UNICEF. Pada dekade tahun 1990-an, penggunaan internet hanya sebatas pengambilan informasi saja. Bisa dikatakan bahwa pada saat itu, internet hanya berfungsi sebagai komunikasi satu arah saja. Dan hanya orang-orang yang berpengalaman yang mampu membuat dan memiliki halaman web. Masa itu dinamakan periode awal internet atau web.

Pada tahuan 2000-an ke atas hingga saat ini, perkembangan web sungguh cepat dan banyak menghasilkan berbagai perubahan. Dengan hadirnya berbagai situs dengan layanan social networking nya. Sehingga kalau kita tanya hampir sebagian besar pengguna internet di Indonesia, pasti memiliki account di Friendster. Sebuah layanan untuk menjalin ajang pertemanan online. Bak jamur di musim hujan, begitu banyak situs-situs serupa yang menghadirkan fasilitas-fasilitas yang lebih bervariasi lagi. Sebut saja My Space, Facebook, YouTube, Blogger, WordPress, dll. Inilah era Web 2.0, era web baru, dimana para pengguna internet tidak hanya mendapatkan informasi, tapi bisa juga memberikan informasi. Saat ini, untuk membuat sebuah halaman web, tidaklah dibutuhkan orang yang sangat ahli seperti dulu lagi. Setiap orang dapat membuatnya. Begitu mudah dan berfaedah.

Di sore harinya, saya kembali mengikuti sesi di ruang 4. Kali ini yang membawakan materi adalah Senior Advisor Kementrian Komunikasi dan Informasi Kuba, Juan Fernandez. Beliau memaparkan program-program yang dijalankan oleh departemennya untuk meningkatkan pemanfaat ICT di negara Kuba. Diantaranya yaitu dengan meningkatkan peran perguruan tinggi yang memiliki program studi Teknologi Informasi dan Komunikasi terhadap masyarakat. Misalnya dengan mengadakan kursus-kursus komputer gratis bagi masyakarat dan juga penyedian mobil van yang difasilitasi dengan komputer dan akses internet. Sehingga mobil van ini dapat menjangkau daerah-daerah yang belum terjangkau oleh akses internet.

Sesi ini berjalan sampai pukul 17.00. Kemudian seluruh peserta berkumpul kembali di ruang 1, untuk berdiskusi dan merangkum hasil seminar di hari kedua itu. Seluruh peserta dibagi dalam kelompok-kelompok. Kemudian masing-masing kelompok menyampaikan hasilnya di depan forum. Kemudian dilanjutkan dengan berbagai diskusi hingga pukul 18.30.

Karena hari kedua ini cukup melelahkan, panitia mengakhiri seminar di hari ini dengan penampilan pertunjukkan musik dari Gazebo. Sebuah grup rap dari Swiss. Semua peserta langsung kembali bersemangat.. Yah, itulah anak muda.

Bersambung lagi besok ya…

0
Fadli Wilihandarwo

Saat ini masih menjalani peran sebagai mahasiswa di Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran UGM

Leave a Reply