“Kalau ada yang tarif telpon nya murah ke semua operator, gua kawin sama monyet”
Itu salah satu ungkapan dari operator XL untuk mengambil hati pelanggan seluler provider lainnya. Mereka (XL) mengklaim tarif telponnya seharga Rp 0,1 per detik ke semua operator (Sekarang malah Rp 600,- tanpa batas waktu). Tak ayal, semua operator pun mulai berlomba menyajikan tarif telepon termurah.
Genderang perang tarif ini awalnya ditabuh oleh Telkomsel dengan produk simPATI PeDe nya. Dengan tarif Rp. 0,5 per detik setelah 1 menit bicara ini (Rp. 1.500), membuat panas provider lainnya. Diantaranya adalah Exelcomindeo (XL) dan Indosat.
Klaim XL sebagai tarif telepon termurah se-Indonesia ini tiba-tiba membuat gerah Indosat dengan Indosat IM3 yang mengeluarkan tarif Rp. 0,000000000..1 per detik ke semua operator. Tentu aja setelah 90 detik bicara.
Fenomena-fenomena di atas tentu aja disambut baik oleh kita selaku konsumen. Kita mendapat tarif telepon yang lebih murah. Artinya bisa lebih menghemat budget pengeluaran pembelian pulsa kita.
Sstt… Pesan moral dari Iklan XL diatas : “Kalau ga kunjung dapet jodoh, pake aja XL, entar dikawinin ama monyet… hehehe”
Jadi Ajang Berbual

Jadi gini, dengan makin murahnya tarif telepon ini, kita semakin memperlama obrolan bicara kita kepada lawan bicara. Hingga setengah jam, 1 jam, bahkan ada rekan saya yang pernah nelpon hingga 2 jam.
Mungkin secara biaya akan murah dan hemat, namun kita tak menyadari kalau secara waktu kita akan sangat-sangat boros. Ya kita membuang-buang waktu dengan menelepon lama-lama.
Apa sih yang kita bicarakan selama itu ? Apa benar-benar hal yang penting ? Atau malah makin menambah pundi-pundi dosa kita dengan bergosip ria ? hehehe kembali ke diri kalian masing-masing jawabannya.
Dengan semakin memurahnya tarif telepon ini, kebiasaan ngobrol kita semakin menjadi-jadi. Dan ujung-ujungnya kebiasaan membaca semakin berkurang. Lantaran kebanyakan dari kita lebih menyukai budaya bicara daripada budaya baca. Makanya di negeri ini makin banyak aja orang yang banyak bicara tetapi sedikit kerja.
Berbual akan menjadi kebiasaan sebagian besar remaja di Indonesia. Tak ayal lagi, negara kita akan terus terpuruk begini jika warganya lebih senang berbual. Tentu aja berbual yang saya maksud adalah pengertian dalam Bahasa Indonesia, yang artinya berbohong. Bukan dalam bahasa Malaysia seperti dalam iklan di atas yang artinya berbicara.
Tak selamanya negatif kok.
Tentu saja saya harus melihat masalah ini secara objektif. Ga selamanya tarif telepon murah itu buruk. Tentu aja ada sisi positifnya. Bagi yang benar-benar memanfaatkan telepon ini sebagai sumber mata pencaharian tentu aja akan terbantu. Misalnya bagi yang mengelola restoran dengan cabang-cabang nya yang bertebaran di seluruh Indonesia. Akan lebih murah dan mudah untuk berkoordinasi misalnya ada stok ayam yang habis misalnya.
Jadi, semua itu tergantung dari penggunannya. Memang tarif telpon di Indonesia saat ini udah lebih murah daripada sebelumnya. Namun, kita harus tetap bijak menyikapinya. Jangan sampai, dengan turunnya tarif telpon ini ikut juga menurunkan kinerja kita.
{ 5 comments… read them below or add one }
saat provider seluler perang tarif, yang rugi adalah pengguna pasca bayar seperti saya ini.. hiks.. udah ga dapet berbagai bonus, bayar tiap bulan plus PPN 10%..
Bagus baget tuh perang tarif, kapan yach perang intelektual????
Semakin ketat kompetisinya – akan semakin menguntungkan kita2 sebagai penggunanya.
moga perang tarif terus berlanjut..he..he
@Ilm@n
Wah kasihan banget u man… Ya udah, seng sabar yo man… hehehe.
Padahal kalau u mau pindah ke Pra Bayar, aku bisa isiin kamu pulsa tuh …
@Adhy
Kita tunggu aja.. lewat blog kayaknya bisa tuh perang intelektual. Setuju ga ?
@Kadek
Menguntungkan buat pengguna ? Ehm, bener banget…
@Zulva
Tapi mudahan perang tarif ga buat perang sinyal… kadang sinyal jadi buruk nih. Kadang kalau lagi peak season, ga bisa nelpon.
Kalau pun bisa, suaranya jelek n putus2.