Mereka Berboncengan Atas Nama Allah
Hari kamis kemarin (20/03/2008) aku pulang jalan kaki sehabis daftar ulang di gedung Graha Sabha Pramana UGM, Yogyakarta. Ya, kali ini aku ikut ujian masuk UGM langsung di Yogyakarta. 2 tahun yang lalu aku ikut UM UGM dari Balikpapan, trus setahun yang lalu aku ikut tes di Makassar.
Nah, dalam perjalanan pulang ke kost-nya Fauzan (kost-an nya temenku waktu SMA dulu, tempat aku tinggal sementara di Jogja), aku berpapasan dengan sepasang suami istri yang sedang berboncengan dengan sepeda motor.
Aku duga sih, sepertinya mereka masih mahasiswa. Soalnya aku ngeliat suaminya masih muda. Istrinya yang mengenakan cadar itu memeluk suaminya dengan satu tangan erat banget. Entah apa karena takut jatuh atau sebagai wujud rasa sayang sang istri kepada suaminya. Sepertinya yang terakhir deh. Karena rasa sayang. Wujud dari kemesraan sepasang suami istri.
Sang suami terlihat begitu gagah dengan baju koko dan sejumput jenggot yang menghiasi dagunya. Sepasang suami istri yang bahagia pasti. Siapa yang ga mau seperti itu ?
Nah, itulah salah satu indahnya Islam. Pantas saja, Islam melarang banget yang namanya pacaran. Karena, didalam pacaran kita tak akan menemukan ketenangan yang sejati. Ketenangan kita selalu dibayangi dengan ketakutan akan murka Allah.
Saat-saat berdua dengan pacar tak akan pernah berbuah pahala. Kebahagiaan yang didapat saat itu malah akan menambah pundi-pundi dosa yang akan mendapatkan balasan tak seindah yang kita rasakan saat berdua dengan kekasih.
Sebaliknya, jika sudah terikat dengan pernikahan, semua hal yang kita lakukan dengan istri akan mendapat pahala di sisi Allah, selain tentu saja perasaan senang dan bahagia akan kita rasakan efeknya secara langsung. Dan hal-hal seperti itu tak akan pernah kita dapatkan jika kita menempuh jalur haram bernama pacaran.
Dan ini ada beberapa artikel yang udah aku tulis juga yang sesuai dengan topik ini. Silahkan dibaca juga ya :
Jadi, masih mau pacaran ?
Tagged:






December 23rd, 2008 at 16:03
Asslm’lkm..
mank benar yang antum tulis,,
dan itu semakin menguatkan azzam pada diri untuk menyempurnakan separuh din agar sempurna walaupun saat ini masih menimba ilmu,,
namun ternyata ortu berkehendak lain,, mereka tak menghendaki anaknya menikah saat kuliah…
ana bisa terima bila alasan mereka syar’i tapi ana sampai sekarang tidak terima larangan ortu karena mereka melarang ana melakukannya dikarenakan usia calon yang ana pilih lebih tua dari ana,, mereka mempermasalahkan fisikdan hartanya yang jelas2 bukan hal yang seharusnya dipermasalahkan bagi ana,,,
karena sejak awal ana memilih dia bukan karena hal tersebut,,
insya Allah ana memilihnya karena ana tau bagaimana agama dan suluk perilakunya… tapi itu tak memuat ortu ana setuju..
ana sekarang ikuti keinginan otu ana tapi,, ana tak mendapat ketenangan,,, karena ana merasa bersalah pada Allah dan Rasulnya karena tak mengikuti perintah-Nya dan, pada hamba Allah itu..
Ana terus teringat dengan hadist Rasulullah SAW bahwa bila datang seorang pria memingang yang engkau ridha agama dan prilakunya maka terimalah karena bila tidak akan ada fitnah..(maaf bila salah) inti hadisnya seperti itu yang ana paham..
teringat hadisy itu membuat ana semakin merasa salah karena ana merasa ketidak tenangan yang terjadi pada diri ana sekarang seperti sebuah balasan dari keputusan itu..
ana mengambil keputusan itu bukan semata-mata keinginan ana, tapi ini juga karena dia berkata agar ana birul-walidain tapi sekarang ana tak mendapat ketenangan,,
terkadang terpikir di diri ana untuk tetap menyempunakan separuh din itu tanpa restu ortu,, tapi ana mempertanyakan apakah dnegan melakukannya Allah akan Ridha???
jawabannya belum ana dapat..
terkadang ana berpikir Allah mungkin akan Ridha karena ana melakukannya atas dasar yang bagi ana benar, yaitu ana memilih dia karena agama dan suluknya bukan karena harta dan fisiknya,,
tapi apa itu benar??
Maaf ana jadi cerita disini,,