Opini

legakan-dengan-menulis

Manusia itu makhluk hidup yang kompleks, yang merupakan pencampuran antara kehendak akal dan kehendak hati. Perlu mencari satu titik keseimbangan diantara keduanya untuk menghasilkan hidup yang nyaman. Titik keseimbangan itu dicapai dengan negosiasi antara akal dan hati. Namun ketika tidak menemukan titik temu, tanyakan hati mengenai apa yang seharusnya dilakukan. Percaya deh, sekotor ataupun seberdosanya diri ini, hati tetap memiliki satu pojok yang suci, yang tak terkotori oleh apapun. Cukup memberanikan diri bertanya padanya.

Dengan kompleksitas logika yang lahir dari akal, kadang segala ide dan pikiran terlihat ruwet bak benang kusut. Tarik satu benang, simpul yang lain menjadi kencang dan semakin susah untuk dilepas dan diurai. Cara terbaik meluruskan kembali benang yang kusut adalah tekun menelusuri satu persatu benang tersebut. Memang akan memakan waktu, but its works. Click to continue…

Kemarin (Rabu, 17 Juni 2009) sekitar jam 12 siang, aku mengalami musibah kehilangan tas ku di Musholla kampus. Isi tasku “lumayan” lengkap. Di dalamnya ada Apple MacBook White (my lovely laptop), HP Nokia 7610 kesayanganku, Hard Disk Portable Transcend Store Jet 320 GB (yang hingga terakhir sebelum hilang sudah terisi sekitar 270GB), 3 Buah Flash Disk, 20 CD kosong, Buku Praktikum, STNK Motor, Kunci Kost, Kunci Motor, Jaket kesayanganku, Jas Almamater, dan barang-barang pribadi lainnya.

Ceritanya gini, ketika aku datang ke mushalla untuk sholat, ternyata jamaah udah mencapai rakaat pertama. Otomatis aku ga bisa ke depan untuk menaruh tas biar lebih aman.

Nah, makanya aku naruh di bagian tengah masjid. Di sekitar tas ku itu ada juga beberapa tas lainnya. Tanpa menaruh curiga ataupun kekhawatiran aku pun meletakkan tas ku disana. Kemudian aku pergi ke kamar mandi sebentar untuk buar air kecil.

Sekembalinya dari kamar kecil, aku ngambil air wudhu untuk sholat. Dan ketika aku mau ngecek tasku, eh udah ga ada. Langsung deh, manggil temn-temenku yang ada di sekitar musholla itu untuk bantu nyariin dan menghubungi satpam kampus (btw, mereka teman-teman yang luar biasa! Langsung bergerak cepat, thanks banget).

Setelah dicari sana-sini, tas dan isinya itu pun belum tampak batang hidungnya. Setelah aku berusaha mencari dan pada akhirnya mengakui bahwa tas ku benar-benar hilang, semuanya aku kembalikan kepada Allah.

Aku yakin Allah mempunyai rencana yang sangat indah ketika aku di cobakan pada ujian ini. Dan ketika itu banyak temen-temen yang menasehatiku, bahwa yakinlah setelah ini Allah akan mengganti nya dengan hal yang lebih baik.

dan Terbukti !

Setelah kehilangan laptop itu, aku akhirnya menyadari beberapa hal yang menurutku adalah hikmah dari kehilangan tas dan isinya itu. Antara lain : Click to continue…

Setiap dari kita pasti punya uang. Entah itu dalam jumlah yang sedikit ataupun dalam jumlah yang berlimpah. Nah, tentu saja kita harus menggunakan uang itu dengan bijak. Nah, di postingan kali ini saya ingin ngebahas tentang arti sebuah uang.

With money you can …
buy a house
but not a home

With money you can …
buy a clock
but not time

With money you can …
buy a bed
but not sleep

With money you can …
buy a book
but not knowledge

With money you can …
get a doctor
but not good health

With money you can …
buy a position
but not respect

With money you can …
buy blood
but not life

With money you can …
buy sex
but not love

“Kamu sekali-kali tidak sampai pada kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai” (QS. Ali Imran : 92)

Student in Class
Creative Commons License photo credit: foundphotoslj

“Ma, kirimin duit donk.. Uang bulanan dah habis nih. Soalnya kemarin habis belanja baju di Mall. Trus tadi pas jalan-jalan di Mall ada handphone model terbaru, pengen banget beli. Kirimin ya.. Satu juta aja..”

Weitss mungkin beberapa dari kita (termasuk saya dulu, hehehe) suka banget minta duit orang tua. Apalagi bagi mahasiswa yang hidupnya jauh dari orang tua. Dengan segudang alasan, bisa saja kita minta orang tua kita untuk mengirimkan duit lagi kepada kita. Padahal, baru 2 minggu yang lalu kiriman dari orang tua itu datang.

Bisa dibilang ini masalah yang klasik sekaligus memprihatinkan. Karena seharusnya, seorang mahasiswa adalah orang yang sedang bersiap untuk menjadi manusia dewasa yang mandiri. Dan saat menjadi mahasiswa lah, kita melatih kedewasaan dan kemandirian kita. Kapan lagi coba ? Tunggu mau wisuda ? Wah kelamaan donk. Masa udah tua masih minta duit orang tua terus.

Agar jangan minta duit terus

Banya cara yang bisa kita lakukan untuk mengatur keuangan bagi seorang mahasiswa. Dan tentunya agar nanti ga perlu sering-sering minta duit ortu lagi. Berikut adalah tips yang aku dapatkan dan terapkan selama beberapa tahun belakangan. Mudahan berguna, jika ada yang kurang, silahkan ditambah ya. Click to continue…

Saat ini, tidak sedikit dokter yang sangat tergantung dengan alat-alat kedokteran yang canggih untuk menjalani prakteknya. Ketika alat-alat itu tidak ada, maka otomatis mereka tidak bisa melakukan praktek kedokterannya dengan baik. Sungguh ironis memang melihat hal ini sudah semakin menggejala di kalangan praktisi kesehatan.

Seakan-akan, dunia kedokteran adalah dunia yang dipenuhi oleh alat-alat canggih yang dibeli dari milyaran rupiah uang rakyat. Dan lebih ironis lagi, tidak semua rakyat –yang turut membayar lewat pajak- bisa menikmatinya.

Banyak cerita dokter-dokter baru yang ditempatkan di daerah terpencil sangat kesulitan mengembangkan kemampuannya dibandingkan ketika dia kuliah dulu di kota. Hal ini tak lain karena ketergantungan alat-alat kedokteran. Sehingga kemampuan asli dari si dokter ini tidak keluar.

Nah, buku ini mencoba memberikan pemahaman mengenai hal tersebut kepada praktisi kesehatan dan pasien mengenai pentingnya memurnikan kembali ajaran kedokteran ini. Click to continue…

Dysfunctional family
Creative Commons License photo credit: FotoDawg
Sebuah event apapun tanpa ada feedback dari para pengunjung ataupun peserta, bagai sayur tanpa garam. Karena kurang sedap rasanya kalau acara kita tidak di apresiasi oleh pengunjung ataupun peserta.

Karena itu penting sekali mendengarkan feedback dari targeted audience kita. Seburuk dan sebagus apapun itu, sebagai panitia harus menerimanya dengan tangan terbuka. Toh ini demi kepuasan kedua belah pihak (panitia dan peserta).

Karena aku ga pernah ke Pesta Buku Jakarta 2008, makanya usul dan saranku kali ini tidak berhubungan dengan venue (tempatnya). Melainkan hal-hal yang kudapat dengan membaca website PBJ 2008. Berikut beberapa usul dan saranku. Click to continue…

Knowledge makes him young
Creative Commons License photo credit: hapal

Pernah denger Pesta Buku Jakarta ?

Kalau belum, sama aku juga. Baru-baru aja sih aku denger kegiatan ini. Entah sudah berapa kali pesta buku ini diadakan. Info pertama kalinya aku dapatkan dari milis yang aku ikuti, penulis lepas. Dari berbagai obrolan disana, ada yang menyampaikan tentang pesta buku ini. Yah, bagi penggila buku, ini merupakan berkah tersendiri. Karena saya yakin bagi pecinta buku berkantung kering, acara-acara seperti ini pasti diburu.

Sesuai namanya, Pesta Buku Jakarta ini diadakan di Jakarta. Pemilihan waktunya pun disesuaikan dengan ulang tahun Jakarta yang ke 481. Jadi berbahagialah warga Jakarta, Anda bisa menikmati sepuasnya diskon dan buku-buku bagus disana tanpa harus terbang menggunakan pesawat, menyusuri rel menggunakan kereta malam, atau bermual-mual menggunakan bus antar kota/propinsi.

Sayang aku tak bisa berada disana. Jaraklah yang membuat pesta ini terlewat untukku, mungkin bagi rekan-rekan lainnya. Jadi, aku tulis komentar ku tentang pesta buku jakarta di blog ku ini aja. Mungkin komentarku tak sebanyak jika aku bisa mendatanginya langsung. Tapi akan aku coba, berbekal sedikit info dari websitenya. Click to continue…

Healthy cocktail
Creative Commons License photo credit: Cronfeld
Sebenarnya aku suka berbagai jenis buku. Mulai dari buku agama (wajib nih…), buku dan majalah tentang komputer, buku-buku pengembangan diri, buku-buku pertanian, buku tentang kepenulisan, buku-buku bisnis, dan terakhir novel. Jadi jangan kaget kalau kalian berkunjung ke kamar ku dan melihat rak buku ku, sangat bervariasi temanya.

Mengapa begitu ? Aku beranggapan dengan semakin bervariasinya buku yang kita baca, kita bisa menyelesaikan sebuah masalah dengan cara yang berbeda dari biasanya. Dan alhamdulillah hal ini pernah aku buktikan. Karena, dengan semakin banyaknya ilmu dan kata yang kita dapatkan dari cabang ilmu yang berbeda akan memperkaya pandangan dan perspektif kita. Coba deh.

Tapi tentu aja tiap orang mempunyai buku-buku favorit. Secara pribadi aku sangat menyukai buku-buku tentang kesehatan. Kenapa ? Sudah sangat jelas nampaknya kalau aku ingin membawa masa depanku ke bidang yang berhubungan dengan kesehatan. Dan karena sekarang masih mahasiswa, makanya harus banyak baca buku tentang kesehatan. Biar entar ga asal jadi dokter aja. Click to continue…

A Rainbow Of Books
Creative Commons License photo credit: Dawn Endico

Aku pernah dengar seseorang bicara kepadaku tentang cara menjadi pintar dengan mudah. Ini caranya, buka jendela kamu lebar-lebar, ambil TV kamu, trus bawa TV itu ke jendela, dan buanglah. Ya dibuang. Sayang ya ? Kalau gitu, kamu ga akan pintar-pintar. Kenapa ?

Salah satu penyebab seseorang menjadi malas-malasan dan sedikit kurang pintar (bahasa yang diperhalus.. hehehe) adalah TV. Penyampaian yang hanya satu arah membuat otak kita tidak berkembang dengan baik. Beda halnya dengan sebuah buku. Ketika membaca, otak kita diajak berpikir kritis terhadap apa yang kita baca.

Lagipula, kita bisa memilih-milih buku apa yang kita baca. Tidak seperti di TV yang menjadikan kita sebagai penerima berita-berita sampah (walaupun kita bisa mengganti channel, tetap aja saja acara yang tidak berguna dan menghabiskan waktu yang kita tonton). Click to continue…

Suatu hari si Ujang tak bisa memasak. Karena terlalu terbiasa menggunakan minyak tanah, dirumahnya hanya ada kompor minyak tanah. Sumirah sang istri pun kelabakan, bubur si anak tak bisa disiapkan. Lagi-lagi karena di rumahnya hanya ada kompor minyak tanah. Memang saat itu minyak benar-benar sangat langka. Bahkan saat itu pemerintah mengumumkan bahwa minyak tanah sudah habis. Tak ada setetespun yang  tersedia di bumi ini.

Siap menghadapi hal tersebut ?

Ya, hal diatas memang belum terasa di semua lapisan masyarakat. Tapi gejala untuk kesana hanya tinggal menunggu waktu aja.

Suka atau tidak suka, suatu saat nanti BBM akan habis. Karena termasuk sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui, BBM akan menjadi sesuatu yang langka. Bahkan mungkin kalau ada harganya akan setara dengan harga emas. Ya, ada istilah yang mengatakan bahwa BBM adalah emas hitam. Kita harus sadari itu.

Sudah lama rakyat terdoktrin bahwa cadangan minyak bumi di dunia baik-baik saja. Hal ini bisa dilihat dari murahnya harga minyak yang mereka dapatkan. Tentu saja ini dikarenakan ada subsidi dari pemerintah. Pada akhirnya ketika perlahan-lahan harga minyak semakin naik, maka masyarakat bagaikan seorang anak kecil yang diambil secara paksa mainan kesukaannya.

Mainan itu sangat ia suka. Sehingga ia rela memukul orang yang berniat mengambilnya. Anak kecil ini menutup mata bahwa ada mainan-mainan lain yang lebih baik dari mainannya saat ini. Ia sudah terlalu cinta dengan mainannya. Bahkan saat tidur pun, mainan ini tak akan rela dilepaskannya.

Masih mau jadi anak kecil?

1234