Wilihandarwo dot Com

a personal blog from Fadli Wilihandarwo

Aku memang baru beberapa hari di Jogja, tapi aku udah dapet beberapa feel yang bagus di Jogja dibandingkan sewaktu aku di Makassar dulu. Satu hal perbedaan yang cukup besar antara Jogja dan Makassar adalah crowded dan panasnya udara.

Di Makassar begitu rame dan panas. Sedangkan di Jogja, walaupun rame tapi ga terlihat terlalu rame. Aneh ya penjelasannya. Aku juga bingung gimana ngejelasinnya. Mungkin karena disini banyak jalan-jalan yang ukurannya kecil, jadi orang-orang ga terkonsentrasi di satu titik. Ga seperti di Makassar yang jalannya panjang-panjang dan lebar-lebar.

Dari sisi udara pun beda. Disini walaupun panas, ga terlalu panas banget. Soalnya di jalan-jalan banyak pohon-pohon yang rindang. Apalagi tempat sekitar aku tinggal sekarang yang dekat UGM. Lumayan teduh lah dibandingkan di Makassar. Kalau di Makassar, daerah paling teduh mungkin cuma Unhas.. :D

Ga Takut Nyebrang Lagi

Ini salah satu ketakutanku waktu di Makassar. Takut nyebrang. Hehehe, cupu banget yah. Sebenarnya ga takut-takut banget sih. Cuman, aku ga terbiasa aja nyebrang di jalan-jalan di Makassar yang kendaraannya super laju dan amburadul itu. Kalau nyebrang sendirian, aku harus nunggu bener-bener sepi baru bisa nyebrang. Maklum wong deso.

Tapi ketika di Jogja, nyebrang jadi begitu mudah. Karena ya itu tadi, jalannya kecil-kecil. Dan kendaraan disini ga terlalu laju-laju banget. So, aku udah nyaman banget dengan kota ini, dan mudahan selama 6 tahun ke depan bisa menuntut ilmu disini.. Amin. Doain yah …

Wah, UM UGM tinggal seminggu lagi !

Posting kali ini bukan berisi postingan porno. Walaupun judulnya bernada untuk 17 tahun ke atas, siapa aja boleh baca kok. Silahkan…

Seringkan kita mendengar peringatan di atas entah itu di majalah, buku, film ataupun di situs-situs internet. Dan biasanya sajian-sajian yang ditawarkan dengan label “17 Tahun Ke Atas” adalah sajian-sajian yang tak senonoh. Dan -menurut tulisan peringatan itu- yang boleh melihatnya adalah yang udah berusia 17 tahun ke atas.

Menurut saya itu adalah peringatan yang sangat tidak masuk akal buat saya sebagai seorang muslim. Kenapa hal-hal seperti ‘itu’ akan menjadi boleh dilihat saat usia seseorang sudah mencapai 17 tahun ke atas.  Apakah dengan umur kita menjadi 17 tahun, sesuatu yang diharamkan akan menjadi halal ? Ga kan ?

Lantas apa kira-kira alasan orang yang membolehkan kita melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh kita lihat itu dengan alasan 17 tahun ke atas ?  Mungkin salah satu alasan yang banyak dikemukakan adalah karena umur 17 tahun ke atas itu udah dewasa untuk menentukan langkahnya sendiri. Ia bertanggung jawab atas apa yang ia lakukan. Read more…

Kira-kira baru seminggu aku di jogja. Dan dalam waktu seminggu itu, aku udah banyak menemukan hal-hal unik. Diantaranya adalah penggunaan arah mata angin untuk menunjukkan arah jalan atau lokasi suatu tempat.

Kalau di daerah lain, biasanya kalau kita mau nanya lokasi suatu tempat, kita akan di bimbing dengan kata-kata “Lurus”, “Belok Kanan”, dan “Belok Kiri”. Nah di Jogja aku jarang banget nemuin kata-kata petunjuk seperti itu. Malah aku di arahkan dengan “Ke Utara, Ke Selatan, Barat dan Timur”.

Aneh juga ya. Entah kok masyarakat Jogja lebih terbiasa dengan arah Utara-Selatan dibandingan dengan Kanan-Kiri. Mungkin hal ini dikarenakan orang jogja masih kental dengan nuansa kerajaan. Tau kan gimana sebuah kerajaan itu. Orang-orang dulu mungkin lebih mudah mengingat jalan atau tempat dengan menyebutkan arah mata angin. Maklum aja dulu kan masih banyak hutan-hutan. Nah rumah-rumah penduduk pasti jaraknya jauh-jauh.

Jadi tentu aja akan lebih gampang menyebut Utara-Selatan dibandingkan Kanan-Kiri. Kalau dengan menyebut Utara-Selatan kan ga harus ngikut jalan yang udah ada. Jadi bisa nembus-nembus hutan untuk sampai ke suatu daerah.

Tapi entahlah, benar atau enggak. Itu hanya pendapat aku aja. Hanya Allah yang tau.

Kemarin aku ngeliat berita di TV tentang demo anarkis di Kendari. Demo itu lagi-lagi melibatkan mahasiswa. Menurut yang aku dengar, kejadian itu sebagai balasan atas penyerangan polisi ke kampus Universitas Haluleo Kendari, Sulawesi Tenggara.

Entah kenapa aku ga suka banget yang namanya demonstrasi. Apa segala masalah harus diselesaikan dengan demonstrasi ? Ga kan ? Mungkin para mahasiswa yang menyerbu kantor walikota di Kendari itu berdalih bahwa apa yang mereka lakukan itu benar, karena menurut mereka, mereka yang diserang duluan oleh polisi.

Apa sebuah kekerasan harus dibalas dengan kekerasan juga ? Ga kan ? Coba kita lihat bagaimana seorang manusia terbaik di dunia ini, yakni Nabi Muhammad Saw. ketika diejek dan dihina oleh kaum kafir. Apa Rasulullah membalasnya ? Ga kan ? Read more…

ini (sekitar jam 7 pagi) aku udah menyambangi warnet favoritku selama aku ada di Jogja, Cheetoz. Warnetnya bersih dan desain ruangannya bagus banget. Jadi betah..

Tujuan ngenet hari ini sih untuk ngupload artikel-artikel baru untuk blog ini. Eh, pas masuk dashboard nya aku nemuin pesan dari wordpress untuk mengupdate mesin blog ini ke versi yang lebih baru. Dari 2.3.3 ke versi 2.5. Wah lompatan nya cukup jauh juga.

Karena itu aku langsung aja update mesin blog kesayanganku ini ke versi yang baru. Karena ga mau ribet dalam urusan update-mengupdate, aku pake aja plugin WordPress Autamatic Upgrade. Tinggal klik-klik doank. Jadi deh.

Pas udah selesai proses updatenya, wah surprise banget. Tampilannya bener-bener berubah total. Walaupun sebelumnya aku udah pernah liat versi beta nya, tetep aja surprise. Makin suka deh dengan wordpress. Apalagi warna dashboard nya cool banget. Biru adem… Read more…

Aku suka banget ngelihat matahari sehabis subuh dan menjelang magrib. Cahaya yang kemerah-merahan sungguh indah. Disaat itu aku bisa makin bersyukur pada Allah yang telah menciptakan semua ini dengan begitu sempurnanya.

Matahari telah menjadi bagian yang sangat penting bagi hidup masyarakat di Bumi. Tanpa benda bulat bercahaya ini, kita tidak akan pernah ada. Tumbuhan tidak akan pernah bisa mengolah unsur hara dalam tanah menjadi energi yang bisa dimakan oleh hewan dan kita.

Namun, kadang tak semua manusia bisa bersyukur bahwa hari ini kita masih bisa melihat matahari. Kita seolah acuh pada matahari. Bahkan kadang matahari menjadi bahan umpatan jika terik membakar kulit kita. Itulah manusia.

Pernahkah kita berpikir, jika matahari pada akhirnya mati ? Akan seperti apakah kita ? Masih kah bisa hidup ? Apa benar matahari bisa mati seperti kita ? Read more…

Belakangan ini ketika jam udah menunjukkan pukul 3 sore, aku suka ngeganti channel TV ke TVRI. Mungkin terkesan agak kuno memang, tapi kali ini TVRI udah berbeda kok. Ga seperti waktu aku SMP ama SMA dulu yang acaranya kebanyakan ga mutu.

Ngelihat TVRI sekarang, aku jadi inget TVRI jaman aku masih SD dulu. Waktu dulu aku seneng dengan acara-acara di TV milik pemerintah ini. Apalagi kalau pas acara yang berbau ilmiah. Misalnya lagi buat-buat sesuatu ataupun bahasa pelajaran. Read more…

Hari kamis kemarin (20/03/2008) aku pulang jalan kaki sehabis daftar ulang di gedung Graha Sabha Pramana UGM, Yogyakarta. Ya, kali ini aku ikut ujian masuk UGM langsung di Yogyakarta. 2 tahun yang lalu aku ikut UM UGM dari Balikpapan, trus setahun yang lalu aku ikut tes di Makassar.

Nah, dalam perjalanan pulang ke kost-nya Fauzan (kost-an nya temenku waktu SMA dulu, tempat aku tinggal sementara di Jogja), aku berpapasan dengan sepasang suami istri yang sedang berboncengan dengan sepeda motor.

Aku duga sih, sepertinya mereka masih mahasiswa. Soalnya aku ngeliat suaminya masih muda. Istrinya yang mengenakan cadar itu memeluk suaminya dengan satu tangan erat banget. Entah apa karena takut jatuh atau sebagai wujud rasa sayang sang istri kepada suaminya. Sepertinya yang terakhir deh. Karena rasa sayang. Wujud dari kemesraan sepasang suami istri. Read more…

Sedang BelajarBeberapa dari kita (termasuk saya dulu) mungkin pernah mengeluh,

”Ah, males banget ! Belajar lagi, belajar lagi ! ”

Tapi anehnya, kita menginginkan kesuksesan. Emang kesuksesan seperti sulap ya ? Ga perlu usaha keras gitu ?

Banyak dari kita yang menganggap bahwa belajar itu adalah sebuah beban. Karena dianggap sebagai sebuah beban, kita akan melaksanakannya dengan berat hati juga. Ga ada unsur ikhlas di dalamnya.

Ada cara yang bisa kita tempuh untuk menjadikan belajar sebagai sebuah proses yang indah. Ga perlu lagi ada unsur-unsur males di dalamnya. Tulisan ini terinspirasi dari ceramah shalat Jum’at di Masjid Kampus UGM beberapa waktu yang lalu.

Kuncinya adalah menganggap belajar adalah sebuah proses ibadah. Karena diniatkan sebagai ibadah, kita hanya akan mengharapkan hasil dari proses belajar kita adalah pahala. Read more…