Apa Sih Maunya Mahasiswa ?
Kemarin aku ngeliat berita di TV tentang demo anarkis di Kendari. Demo itu lagi-lagi melibatkan mahasiswa. Menurut yang aku dengar, kejadian itu sebagai balasan atas penyerangan polisi ke kampus Universitas Haluleo Kendari, Sulawesi Tenggara.
Entah kenapa aku ga suka banget yang namanya demonstrasi. Apa segala masalah harus diselesaikan dengan demonstrasi ? Ga kan ? Mungkin para mahasiswa yang menyerbu kantor walikota di Kendari itu berdalih bahwa apa yang mereka lakukan itu benar, karena menurut mereka, mereka yang diserang duluan oleh polisi.
Apa sebuah kekerasan harus dibalas dengan kekerasan juga ? Ga kan ? Coba kita lihat bagaimana seorang manusia terbaik di dunia ini, yakni Nabi Muhammad Saw. ketika diejek dan dihina oleh kaum kafir. Apa Rasulullah membalasnya ? Ga kan ? Read More »
WordPress 2.5, Cakep dah…
ini (sekitar jam 7 pagi) aku udah menyambangi warnet favoritku selama aku ada di Jogja, Cheetoz. Warnetnya bersih dan desain ruangannya bagus banget. Jadi betah..
Tujuan ngenet hari ini sih untuk ngupload artikel-artikel baru untuk blog ini. Eh, pas masuk dashboard nya aku nemuin pesan dari wordpress untuk mengupdate mesin blog ini ke versi yang lebih baru. Dari 2.3.3 ke versi 2.5. Wah lompatan nya cukup jauh juga.
Karena itu aku langsung aja update mesin blog kesayanganku ini ke versi yang baru. Karena ga mau ribet dalam urusan update-mengupdate, aku pake aja plugin WordPress Autamatic Upgrade. Tinggal klik-klik doank. Jadi deh.
Pas udah selesai proses updatenya, wah surprise banget. Tampilannya bener-bener berubah total. Walaupun sebelumnya aku udah pernah liat versi beta nya, tetep aja surprise. Makin suka deh dengan wordpress. Apalagi warna dashboard nya cool banget. Biru adem… Read More »
Akhirnya Matahari Kan Mati…
Aku suka banget ngelihat matahari sehabis subuh dan menjelang magrib. Cahaya yang kemerah-merahan sungguh indah. Disaat itu aku bisa makin bersyukur pada Allah yang telah menciptakan semua ini dengan begitu sempurnanya.
Matahari telah menjadi bagian yang sangat penting bagi hidup masyarakat di Bumi. Tanpa benda bulat bercahaya ini, kita tidak akan pernah ada. Tumbuhan tidak akan pernah bisa mengolah unsur hara dalam tanah menjadi energi yang bisa dimakan oleh hewan dan kita.
Namun, kadang tak semua manusia bisa bersyukur bahwa hari ini kita masih bisa melihat matahari. Kita seolah acuh pada matahari. Bahkan kadang matahari menjadi bahan umpatan jika terik membakar kulit kita. Itulah manusia.
Pernahkah kita berpikir, jika matahari pada akhirnya mati ? Akan seperti apakah kita ? Masih kah bisa hidup ? Apa benar matahari bisa mati seperti kita ? Read More »
TVRI Mulai Keren Kok…
Belakangan ini ketika jam udah menunjukkan pukul 3 sore, aku suka ngeganti channel TV ke TVRI. Mungkin terkesan agak kuno memang, tapi kali ini TVRI udah berbeda kok. Ga seperti waktu aku SMP ama SMA dulu yang acaranya kebanyakan ga mutu.
Ngelihat TVRI sekarang, aku jadi inget TVRI jaman aku masih SD dulu. Waktu dulu aku seneng dengan acara-acara di TV milik pemerintah ini. Apalagi kalau pas acara yang berbau ilmiah. Misalnya lagi buat-buat sesuatu ataupun bahasa pelajaran. Read More »
Mereka Berboncengan Atas Nama Allah
Hari kamis kemarin (20/03/2008) aku pulang jalan kaki sehabis daftar ulang di gedung Graha Sabha Pramana UGM, Yogyakarta. Ya, kali ini aku ikut ujian masuk UGM langsung di Yogyakarta. 2 tahun yang lalu aku ikut UM UGM dari Balikpapan, trus setahun yang lalu aku ikut tes di Makassar.
Nah, dalam perjalanan pulang ke kost-nya Fauzan (kost-an nya temenku waktu SMA dulu, tempat aku tinggal sementara di Jogja), aku berpapasan dengan sepasang suami istri yang sedang berboncengan dengan sepeda motor.
Aku duga sih, sepertinya mereka masih mahasiswa. Soalnya aku ngeliat suaminya masih muda. Istrinya yang mengenakan cadar itu memeluk suaminya dengan satu tangan erat banget. Entah apa karena takut jatuh atau sebagai wujud rasa sayang sang istri kepada suaminya. Sepertinya yang terakhir deh. Karena rasa sayang. Wujud dari kemesraan sepasang suami istri. Read More »
Nak, Belajarlah yang Rajin…
Beberapa dari kita (termasuk saya dulu) mungkin pernah mengeluh,
”Ah, males banget ! Belajar lagi, belajar lagi ! ”
Tapi anehnya, kita menginginkan kesuksesan. Emang kesuksesan seperti sulap ya ? Ga perlu usaha keras gitu ?
Banyak dari kita yang menganggap bahwa belajar itu adalah sebuah beban. Karena dianggap sebagai sebuah beban, kita akan melaksanakannya dengan berat hati juga. Ga ada unsur ikhlas di dalamnya.
Ada cara yang bisa kita tempuh untuk menjadikan belajar sebagai sebuah proses yang indah. Ga perlu lagi ada unsur-unsur males di dalamnya. Tulisan ini terinspirasi dari ceramah shalat Jum’at di Masjid Kampus UGM beberapa waktu yang lalu.
Kuncinya adalah menganggap belajar adalah sebuah proses ibadah. Karena diniatkan sebagai ibadah, kita hanya akan mengharapkan hasil dari proses belajar kita adalah pahala. Read More »
Mau Pintar Bahasa Inggris ? Jerman ? Prancis ? Jepang ? atau Bahasa Jawa ? Nih kuncinya…
Beberapa waktu yang lalu aku pernah menonton film dokumenter di Metro TV, waktu itu lagi ngebahas tentang keajaiban bayi. Subhanallah, ternyata seorang bayi yang baru lahir diberi kemampuan untuk menguasi seluruh bahasa dunia. Namun, seiring bertambahnya umur sang bayi, kemampuan pengenalan bahasanya semakin menurun. Sang bayi hanya akan mengenal bahasa yang sehari-hari yang dia dengar aja.
Jadi kalau mau membuat seorang anak pintar bahasa asing, ajaklah ngobrol dengan bahasa asing itu sejak dalam kandungan hingga lahir dan awal-awal kehidupannya.
Cita-citaku sih pengen punya anak yang pintar bahasa Indonesia (pasti donk), Arab, dan Inggris. Karena itu mulai saat ini aku sebagai calon orang tua, harus lebih dulu pinter bahasa Arab dan Inggris.
Wah berarti udah telat donk kalau kita mau jadi ahli dalam bahasa asing ? Harus ngulang jadi bayi donk ? Hehehe… Read More »
Bersyukur Karna Bintang
Hari ini aku tiba-riba teringat dengan kesempatan yang aku dapatkan sekitar tahun 2005 dulu. Ketika aku menjadi salah satu perwakilan dari Kaltim untuk mengikuti olimpiade sains nasional bidang Astronomi yang waktu itu diselenggarakan di Jakarta.
Aku ingat ketika Pak Darjo (Guru Fisika ku) menyuruhku untuk mengikuti lomba ini di tingkat kota. Wah, sempet kaget juga. Soalnya aku belum banyak tahu tentang astronomi. Apalagi waktu itu, ilmu astronomi tidak terlalu banyak dipelajari di sekolah.
Tapi, kuterima aja tantangan itu. Dan alhamdulilah aku bisa menang di tingkat kota dan propinsi. Namun di tingkat nasional aku belum bisa juara. Masih peringkat 40 dari 85 peserta. Lumayanlah menurutku.
Satu hal yang bisa kurasakan hingga saat ini dari perlombaan itu, bukan rasa kebanggan kemenangan yang selalu kuingat. Tapi, rasa bersyukurku terhadap alam ini yang makin besar. Read More »
Menjadi ‘Artis’ yang ngetop di Dunia dan Akhirat
Mungkin kebanyakan dari kita udah pada nonton film yang cukup banyak dibicarakan saat ini, yaitu Ayat-Ayat Cinta. Begitu banyak hal yang bisa kita ambil dari film yang disadur dari novel karya Kang Abik ini. Pro dan kontra tentu aja pernah menyambangi film yang kata sebuah tabloid udah tembus angka 2,5 jjuta penonton.
Tapi bukan kefenomenalan film itu yang akan saya bahas di tulisan saya kali ini. Melainkan saya akan melihat dari sudut pandang si artis.
Pernah saya dengar di salah satu stasiun TV kalau Fedi Nuril (pemeran tokoh Fahri), yang terlihat begitu sempurna di film itu, tapi sejujurnya dia mengakui kalau di dunia nyata tidak bisa seperti itu.
Tulisan ini sama sekali bukan mengkritik ketidakbisaan Fedi Nuril mengaplikasikan apa yang diperankannya dalam film ke kehidupan nyata. Sama sekali bukan. Tulisan ini untuk bahan renungan kita semua, termasuk saya. Read More »
Perang Tarif Telpon, Ga Bagus-Bagus Amat
“Kalau ada yang tarif telpon nya murah ke semua operator, gua kawin sama monyet”
Itu salah satu ungkapan dari operator XL untuk mengambil hati pelanggan seluler provider lainnya. Mereka (XL) mengklaim tarif telponnya seharga Rp 0,1 per detik ke semua operator (Sekarang malah Rp 600,- tanpa batas waktu). Tak ayal, semua operator pun mulai berlomba menyajikan tarif telepon termurah.
Genderang perang tarif ini awalnya ditabuh oleh Telkomsel dengan produk simPATI PeDe nya. Dengan tarif Rp. 0,5 per detik setelah 1 menit bicara ini (Rp. 1.500), membuat panas provider lainnya. Diantaranya adalah Exelcomindeo (XL) dan Indosat.
Klaim XL sebagai tarif telepon termurah se-Indonesia ini tiba-tiba membuat gerah Indosat dengan Indosat IM3 yang mengeluarkan tarif Rp. 0,000000000..1 per detik ke semua operator. Tentu aja setelah 90 detik bicara.
Fenomena-fenomena di atas tentu aja disambut baik oleh kita selaku konsumen. Kita mendapat tarif telepon yang lebih murah. Artinya bisa lebih menghemat budget pengeluaran pembelian pulsa kita.
Sstt… Pesan moral dari Iklan XL diatas : “Kalau ga kunjung dapet jodoh, pake aja XL, entar dikawinin ama monyet… hehehe”
Jadi Ajang Berbual Read More »





